Kemarin di gereja terinspirasi dari kotbah soal penggunaan
waktu dengan baik. Pada kotbah tersebut mengambil contoh sikap dari 10 gadis
dalam menyambut mempelai pria (Matius 25:1-13). Perumpamaan ini merupakan
gambaran dua golongan orang Kristen dalam menyikapi kedatangan Tuhan Yesus yang
ke dua kalinya. Digambarkan ada 10 gadis dimana 5 gadis bijaksana yang
mempersiapkan dengan baik dan serius mempelai pria dengan dengan membawa pelita
berisi penuh dengan minyak sedangkan 5 gadis lainnya disebut gadis bodoh karena
membawa pelita tapi tidak membawa minyak. Hingga sampai tengah malam pelita
dari gadis2 bodoh tersebut mati karena kehabisan minyak semenetara mempelai
pria sudah datang dan ke 5 gadis bodoh harus mencari penjual minyak untuk
membeli minyak. Akhirnya hanya ke 5 gadis bijaksana itulah yang masuk ke dalam
ruang perjamuan kawin dengan mempelai pria nya dan pintu pun ditutup sehingga
ke 5 gadis bodoh itu tidak bisa masuk lagi.
Sebenarnya perumpamaan ini menggambarkan sikap orang2
Kristen dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Gadis-gadis yang bijaksana
menggambarkan orang Kristen yang bersikap antisipatif dan serius sedangkan gadis-gadis
yang bodoh menggambarkan orang Kristen yang bersikap non-atisipatif dan lalai.
Sambil mendengar kotbah tersebut pikiran saya melayang
kepada sikap orang dalam mengelola keuangan. Menurut saya perumpamaan tentang
gadis bijaksana dan bodoh itu bisa juga menggambarkan sikap orang dalam
mengelola keuangannya. Ada orang yang penuh dengan perencanaan tapi ada juga
orang yang cuek tidak memikirkan masa depan. Gadis bijaksana menggambarkan
orang-orang yang sangat apik dalam mengelola keuangan pribadi ataupun keluarga,
mereka dengan detail membagi rencana dalam 3 masa yaitu jangka pendek, menengah
dan panjang. Sekalipun anak-anaknya masih bayi sudah menyisihkan dana
pendidikan sampai perguruan tinggi setiap bulan. Begitu juga rencana memiliki
rumah, kendaraan sendiri, dana pensiun, Asuransi Kesehatan, dll semuanya
terencana dengan baik. Sebaliknya terjadi pada sikap sperti gadis bodoh, tidak
peduli akan masa depan, tidak ada perencaan keuangan di masa yang akan datang.
Nampaknya mereka sangat mengimani kalimat ‘kesusahan hari ini cukuplah untuk
hari ini’ hehehe.. Padahal kalimat tersebut tidak berlaku dalam perencanaan.
Si perencana sangat menghargai waktu dan bijaksana menjalani
hidup. Sebaliknya si lalai selalu menganggap selalu ada kesempatan kedua bahkan
ketiga. Besok toh masih ada kesempatan. Kemalasan dan penundaan adalah ciri sikap
hidupnya.
Seiring dengan waktu berjalan (dan biasanya tidak terasa
karena kesibukan sehari-hari), biaya hidup semakin meningkat karena kebutuhan
meningkat, anak-anak bertambah besar butuh biaya sekolah lebih besar begitu
juga biaya-biaya lainnya. Belum lagi akibat inflasi, harga-harga naik sehingga
biaya hidup tentu saja meningkat.
Si perencana bisa tenang menghadapi situasi yang ada di masa
kini karena jauh sebelumnya sudah diantisipasi dengan perencanaan yang baik
sedangkan si lalai tinggal gigit jari dalam kemelaratan hidup yang terus
menghimpit hidupnya. Nasib sudah menjadi bubur, andai bisa memutar waktu
mungkin si lalai akan berubah sikap namun itu tidak mungkin terjadi. Waktu
tidak bisa mundur, waktu berjalan terus. Masa pensiun pun tiba, si perencana
bisa hidup tenang di masa pensiun/tuanya tanpa harus membebani anak-anaknya
sedangkan si lalai hidup melarat dan bisa terlihat dari wajahnya yang terlihat
lebih tua dari usianya dikarenakan banyak pikiran, masa tuanya sangat
bergantung kepada anak-anaknya yang sayangnya hidupnya juga pas-pasan karena
tidak disekolahkan dengan baik.
Gambaran ini sangat nyata di sekitar kita bagaimana kondisi
tersebut benar-benar dialami oleh orang perencana dan si lalai. Saya lihat
sendiri di lingkungan/keluarga dekat
saya nasib ke 2 golongan tersebut antara golongan si perencana dan si
lalai. Dan dari kisah nyata merekalah saya tertarik untuk membantu ibu-ibu atau
siapapun untuk menata keuangannya dengan baik. Karena bagaimanapun persiapan
yang baik akan memudahkan kita menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidak
pastian. Yang pasti itu adalah bahwa kita tambah tua.
Senang melihat masa pensiun si perencana karena hidupnya
tenang tidak menyusahkan orang lain (anak-anaknya) dan terlihat dari wajahnya,
dilain sisi sedih melihat masa tua si lalai terlihat lebih tua dibanding usianya.
Tapi sekali lagi, waktu tidak bisa diputar. Time is money!
Bg tmn" yg mau jual USD rusak atau dll bs hbng sy pin 5ED09979
BalasHapusBg tmn" yg mau jual USD rusak atau dll bs hbng sy pin 5ED09979
BalasHapus