Minggu, 08 Februari 2015

“Time is money”



Kemarin di gereja terinspirasi dari kotbah soal penggunaan waktu dengan baik. Pada kotbah tersebut mengambil contoh sikap dari 10 gadis dalam menyambut mempelai pria (Matius 25:1-13). Perumpamaan ini merupakan gambaran dua golongan orang Kristen dalam menyikapi kedatangan Tuhan Yesus yang ke dua kalinya. Digambarkan ada 10 gadis dimana 5 gadis bijaksana yang mempersiapkan dengan baik dan serius mempelai pria dengan dengan membawa pelita berisi penuh dengan minyak sedangkan 5 gadis lainnya disebut gadis bodoh karena membawa pelita tapi tidak membawa minyak. Hingga sampai tengah malam pelita dari gadis2 bodoh tersebut mati karena kehabisan minyak semenetara mempelai pria sudah datang dan ke 5 gadis bodoh harus mencari penjual minyak untuk membeli minyak. Akhirnya hanya ke 5 gadis bijaksana itulah yang masuk ke dalam ruang perjamuan kawin dengan mempelai pria nya dan pintu pun ditutup sehingga ke 5 gadis bodoh itu tidak bisa masuk lagi.
Sebenarnya perumpamaan ini menggambarkan sikap orang2 Kristen dalam menantikan kedatangan Tuhan Yesus. Gadis-gadis yang bijaksana menggambarkan orang Kristen yang bersikap antisipatif dan serius sedangkan gadis-gadis yang bodoh menggambarkan orang Kristen yang bersikap non-atisipatif dan lalai.
Sambil mendengar kotbah tersebut pikiran saya melayang kepada sikap orang dalam mengelola keuangan. Menurut saya perumpamaan tentang gadis bijaksana dan bodoh itu bisa juga menggambarkan sikap orang dalam mengelola keuangannya. Ada orang yang penuh dengan perencanaan tapi ada juga orang yang cuek tidak memikirkan masa depan. Gadis bijaksana menggambarkan orang-orang yang sangat apik dalam mengelola keuangan pribadi ataupun keluarga, mereka dengan detail membagi rencana dalam 3 masa yaitu jangka pendek, menengah dan panjang. Sekalipun anak-anaknya masih bayi sudah menyisihkan dana pendidikan sampai perguruan tinggi setiap bulan. Begitu juga rencana memiliki rumah, kendaraan sendiri, dana pensiun, Asuransi Kesehatan, dll semuanya terencana dengan baik. Sebaliknya terjadi pada sikap sperti gadis bodoh, tidak peduli akan masa depan, tidak ada perencaan keuangan di masa yang akan datang. Nampaknya mereka sangat mengimani kalimat ‘kesusahan hari ini cukuplah untuk hari ini’ hehehe.. Padahal kalimat tersebut tidak berlaku dalam perencanaan.
Si perencana sangat menghargai waktu dan bijaksana menjalani hidup. Sebaliknya si lalai selalu menganggap selalu ada kesempatan kedua bahkan ketiga. Besok toh masih ada kesempatan. Kemalasan dan penundaan adalah ciri sikap hidupnya.
Seiring dengan waktu berjalan (dan biasanya tidak terasa karena kesibukan sehari-hari), biaya hidup semakin meningkat karena kebutuhan meningkat, anak-anak bertambah besar butuh biaya sekolah lebih besar begitu juga biaya-biaya lainnya. Belum lagi akibat inflasi, harga-harga naik sehingga biaya hidup tentu saja meningkat.
Si perencana bisa tenang menghadapi situasi yang ada di masa kini karena jauh sebelumnya sudah diantisipasi dengan perencanaan yang baik sedangkan si lalai tinggal gigit jari dalam kemelaratan hidup yang terus menghimpit hidupnya. Nasib sudah menjadi bubur, andai bisa memutar waktu mungkin si lalai akan berubah sikap namun itu tidak mungkin terjadi. Waktu tidak bisa mundur, waktu berjalan terus. Masa pensiun pun tiba, si perencana bisa hidup tenang di masa pensiun/tuanya tanpa harus membebani anak-anaknya sedangkan si lalai hidup melarat dan bisa terlihat dari wajahnya yang terlihat lebih tua dari usianya dikarenakan banyak pikiran, masa tuanya sangat bergantung kepada anak-anaknya yang sayangnya hidupnya juga pas-pasan karena tidak disekolahkan dengan baik.

Gambaran ini sangat nyata di sekitar kita bagaimana kondisi tersebut benar-benar dialami oleh orang perencana dan si lalai. Saya lihat sendiri di lingkungan/keluarga dekat  saya nasib ke 2 golongan tersebut antara golongan si perencana dan si lalai. Dan dari kisah nyata merekalah saya tertarik untuk membantu ibu-ibu atau siapapun untuk menata keuangannya dengan baik. Karena bagaimanapun persiapan yang baik akan memudahkan kita menghadapi masa depan yang penuh dengan ketidak pastian. Yang pasti itu adalah bahwa kita tambah tua.
Senang melihat masa pensiun si perencana karena hidupnya tenang tidak menyusahkan orang lain (anak-anaknya) dan terlihat dari wajahnya, dilain sisi sedih melihat masa tua si lalai terlihat lebih tua dibanding usianya. Tapi sekali lagi, waktu tidak bisa diputar. Time is money!

2 komentar:

  1. Bg tmn" yg mau jual USD rusak atau dll bs hbng sy pin 5ED09979

    BalasHapus
  2. Bg tmn" yg mau jual USD rusak atau dll bs hbng sy pin 5ED09979

    BalasHapus