Jumat, 09 November 2018

Pengalaman Investasi Logam Mulia


Sejak mengambil sertifikasi pengelolaan keuangan (Financial planning) tahun 2011 lalu, semangat untuk mempraktekkan ilmu lagi menggebu-gebu dengan tujuan supaya tidak sia-sia belajar:)
Salah satu instrument investasi yang saya coba adalah membeli logam mulia. Sebenarnya untuk investasi yang satu ini Ibu saya sudah lama mempraktekkannya dan sangat membantu biaya pendidikan anak-anaknya 8 orang.
Dan sayapun sejak mulai kerja sudah disarankan untuk mulai beli emas karena menurut beliau harga emas naik terus tiap tahun sesuai pengalamannya sendiri. Dan memang saya cek sendiri dari kwitansi pembelian awal memang naiknya lumayan setelah berapa tahun kemudian.
Setelah sekian puluh tahun akhirnya saya mencoba beli emas berupa logam mulia seperti ilmu yang saya dapatkan dari belajar tentang Financial Planning. Karena kalau beli berupa perhiasan, saat dijual kembali harga akan lebih rendah dari harga logam mulia karena dipotong oleh ongkos pembuatan perhiasan.
Tahun 2012 saat pertama beli logam mulia selanjutnya beli tahun 2013 dan belinya langsung ke kantor Antam yang di P Gadung. Oh ya sebagai informasi, sekarang sudah ada cabangnya di Sarinah Thamrin Jakarta.
Saat beli di Antam P Gadung, antri panjang dan prosedur lumayan panjang karena ada beberapa tahap termasuk harus bayar di bank yang sudah disiapkan di depan halaman kantor dan antri panjang juga.
Sebenarnya bisa juga beli LM lewat teleponu lalu transfer uangnya dan fax bukti bayarnya. Kita dikasih waktu 3 hari kalau tidak salah untuk mengambil fisik logam mulia nya.
Lumayan memudahkan kita saat itu sehingga tidak perlu antri panjang.

Tidak banyak sih belinya... karena tujuannya mau mempraktekkan ilmu saja dan pengalaman ibu saya sendiri. Tapi ternyata pengalaman saya berbeda dengan yang dialami ibu saya.  Setelah 5 tahun kemudian karena lagi butuh dana, logam mulia tersebut saya jual kembali ke Antam dan ternyata harganya naik tidak sebanyak yang dialami ibu saya. Bisa aja saat saya beli harga emas udah mulai tinggi dan saat itu peminat logam mulia lagi tinggi. Saya bandingkan dengan uang jumlah yg sama dimasukan deposito, return yang kita peroleh dari deposito lebih tinggi. 
Saya belum analisa lebih mendalam sih apakah karena soal waktu jual yang harusnya lebih lama atau memang saat saya beli harga emas lagi tinggi. Yang jelas saat saat butuh dana cepat, investasi Logam mulia cukup membantu karena langsung cair dananya kalau dijual di toko emas tapi kalau dijual kembali ke Antam, uang masuk ke rekening kita setelah 2-3 hari kemudian. Memang benarlah nasehat investasi jangan menyimpan telur di satu keranjang. jadi kudu diversifikasi portofolio investasi untuk meminimalkan kerugian.

Berikut grafik harga emas/logam mulia selama 10 tahun (2009-2018) dalam Rupiah per Gram:


10 tahun harga emas sejarah dalam Rupiah per Gram

10 tahun harga emas sejarah dalam Rupiah per Gram

 Sumber:  Gold Price


Dari grafik terlihat harga emas tahun 2012 dan 2013 hampir sama dengan harga tahun 2017. Artinya pengalaman saya investasi emas tidak seberuntung Ibu saya. Saya cenderung rugi karena selama 5 tahun uang saya tidak berkembang. Malah lebih untung kalau saya simpan di deposito.
Tapi itulah bagian dari resiko berinvestasi.

Bagimana pengalaman anda sendiri? Silahkan berbagi untuk menambah ilmu:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar