Tulisan ini
saya buat persis setelah selesai mempersiapkan semua dokumen-dokumen yang
dibutuhkan dalam rangka mendaftar anak-anak saya untuk seleksi Pembinaan
Olahraga Prestasi Berkelanjutan (POPB) U-15. POPB U-15 Tahun ini adalah Program
Pembinaan Atlet Berbakat DKI Jakarta yang berusia di bawah 15 tahun yang bersifat
desentralisasi latihan melalui pendekatan Sports Science berbasis karakter tumbuh
kembang usia Atlet.
Syarat-syarat
nya tidak terlalu ribet tapi sempat juga tidak tertarik karena prestasi anak-anak
saya tidak terlalu hebat dibanding teman-teman di klub nya. Makanya waktu
seleksi gelombang 1 saya tidak daftarkan mereka. Namun ternyata setelah proses
seleksi selesai dan calon-calon atlet yang lolos sudah diumumkan, minggu
depannya keluar lagi pengumuman seleksi gelombang ke 2. Mulai tertarik tapi
malas untuk menyiapkan semua dokumen yang diperlukan. Alhasil setelah ngobrol
dengan teman, ditambah dapat info dari orangtua yang lain bahwa anak yang jago
renang belum tentu lolos kalau hasil test fisik tidak sesuai dengan yang
disyaratkan. Ahh saya jadi tambah semangat untuk mencoba, lolos tidaknya tidak
apa-apa yang penting sudah mencoba😊
Selama
proses pengumpulan dokumen-dokumen, tiba-tiba terpikir lagi hal yang saya
pikirkan saat pelaksanaan Asian Games 2018 lalu dimana Indonesia sebagai tuan
rumah dan dilaksanakan di Jakarta dan Palembang.
Saat berlangsung, ada cerita
menarik dan sangat inspiratif tentang 2 atlet sepak takraw putri yang mantan
pemulung. Ke 2 atlit putri ini adalah kembar namannya Lena-Leni. Lewat sepak
takraw mereka bisa bersekolah gratis, dapat beasiswa. Orangtua mereka tidak
mampu membiayai mereka sekolah.
Dari kisah
mereka ini, terpikir bahwa ada banyak peluang untuk mendaptkan Pendidikan gratis
sampai ke perguruan tinggi salah satunya lewat prestasi olahraga.
Sambil
mengumpulkan berkas-berkas, dan sambal mengikuti diskusi di WAG soal cara
mendapatkan beasiswa bagi anak yang berprestasi di olahraga kembali muncul hayalan
andai semua orangtua di luar sana khususnya yang merasa tidak mampu secara
ekonomi menyekolahkan anak-anaknya sampai ke Perguruan Tinggi mau memasukkan
anak-anaknya sejak dini untuk bergabung ke salah satu klub cabor yang disenangi
anak-anaknya.
Sebagai
informasi tambahan, ada beberapa cabor yang diseleksi berdasarkan batas usia
yaitu:
Angkat Besi
(9-14), Atletik (10-15), Bola Basket (10-14), Bola Voli Indoor (10 -14), Bola
Voli Pasir (10-14), Judo (10-14), Panahan (12-14), Pencak Silat (12-14), Renang
Indah (8-13), Renang (8-12), Sepakbola (12-14), Sepak Takraw (12-14), Tenis
Meja (8-12), Dayung (12-14), Gulat (10-14), Senam (Ritmik, Artistik &
Aerobik) (6-10), Wushu (10-14), Squash (10-14), Taekwondo (12-14), Anggar
(12-14), Tennis (12-14), Tinju (12-14), Panjat Tebing (12-14), Skateboarding
(12-14), Loncat Indah (8-13), Balap Sepeda (12-14), Ski Air (10-14)